Monday, January 26, 2009

BE YourSELF

Be yourself = to be ignorant

Yang Tolol Yang Selamat.

IDE Sukses

Salah satu caraku memulai sesuatu, adalah berpura-pura (memberi sugesti diri sendiri) bahwa aku sudah sering melakukannya, dan melakukannya kali ini bukan lagi masalah yang terlalu tidak mungkin, dan aku bisa melakukannya. Selanjutnya terserah pada universal, membiarkanku mengerjakan sampai berapa jauh, tapi membiarkanku mengetahui perkembangannya, dan pada akhirnya, memberiku pelajaran & pengalaman baru.

Life & Heaven

Orang tidak jadi ahli Matematika di surga karena belajar 1+1 di dunia. Pencarian sebenarnya adalah mencari cara lain untuk hal lain. Meskipun kebiasaan pikiran membuatnya tidak selalu mudah.

Yang jelas surga tidak menerimamu dan pikiran sempitmu tentang apa saja yang kau kuasai. Surga seperti semua hal lain secara konsep, mereka menilai apa yang kau kerjakan, tapi mereka tidak mau tahu soal apa yang kau coba kuasai, tidak juga hasilnya. Mereka adalah 'bayaran' atas kerja kerasmu itu, tentu saja bila kerja kerasmu adalah dalam standarnya. Mereka lebih bersifat obyektif, hampir sama seperti hidup. Seperti ignoransi sekelompok teman yang tak terbantahkan, tapi kau selalu bisa mengubah jalanmu sendiri, kemanapun kau bisa pergi. Tergantung hal yang mana yang kau pilih untuk dilakukan.

Pada dasarnya kita lebih dekat dengan semua hal ini lebih dari yang kita duga.

BAPAK BERAK


Setiap pagi BAPAK BERAK. Saat baru bangun pagi, dia jalan menyeret-nyeret seperti monyet besar yang pintar. Sarungnya disimpul acak-acakan, tidak mudah merapikannya dengan mata masih rapat, dengan tangan-tangan raksasa berbulunya itu. Seperti aku yang suka kesulitan mengetik di keyboard, dan keterampilan lain yang menggunakan tangan yang buruk. Dia wariskan tangan-tangan monyet itu padaku.


Setiap pagi BAPAK BERAK. Dia tidak langsung mandi. Dia mendekam sebentar di ruang kerjanya. Ruang kerja yang dibentuk oleh dua sisi dinding buatan dari triplek dan rangka-rangka balok. Di ruang kerja itu ada lemari kabinet bekas kantornya, meja panjang dan sebuah meja belajar, serta sebuah tempat tidur yang membujur barat-timur. Disana dia biasanya tidur lagi sebentar sampai setengah tujuh-an. Baru setelah diingatkan MAMAK yang panteng seliweran keluar-masuk rumah-kios, baru dia masuk kamar mandi. Disana dia gosok gigi, berjongkok, menampakkan paha dan kadang-kadang pantatnya, dengan pintu terbuka, menghadap ke barat dan rapat di pintu karena ruang yang tak cukup dengan begitu banyak ember di dalam kamar mandi.


Muntah-muntah BAPAK disodok-sodok batang sikat giginya. Suaranya nyaring sekali. "OOOOeeeekkk!"

LAGI. "OOEEEKK!!"


Baru setelah itu, dia BERAK.


Pertama-tama dia kentut-kentut, kadang panjang, kadang pendek dan besar, kadang singkat dan nyaring, kadang panjang melengking. Entah tangga nada yang bagaimana yang bisa dibuat lobang pantatnya, tapi yang jelas sangat besar dan menggema.


BAPAK BERAK. Barulah TAIK BAPAK keluar satu per satu, diselingi kentut-kentut baru.

PLUNG! PLUNG!! BLUB!!! Masuk di air kakus. Lalu dia siramkan air dua-tiga gayung. Hening lagi. Kadang dia membuat nafas-nafas orang mengejan kemudian menghelanya dengan panjang dan nyaring.

Beberapa menit kemudian, BAPAK selesai BERAK.


BAPAK SHALAT SUBUH. Setelah selesai berdoa, dia masuk lagi ke kamar mandi, kadang-kadang hanya untuk mengelap lagi rambutnya yang basah. SERINGNYA dia BERAK LAGI.


Baru setelah itu, setelah BAPAK BERAK, "Klinting... Klinting..." bunyi kepala ikat pinggangnya saat ia memakai celana panjang, siap-siap belanja untuk kios. Tapi biasanya BAPAK nonton TV dulu sebentar. Baru mulai beranjak setelah, seperti biasa, ditegur MAMAK yang terlalu SUCI kadang untuk dibantah, sampai-sampai membuatku MUAK dan ingin membelah dan melihat apa sebenarnya isi KEPALANYA selain suara merdu saat ia membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan MENYERAHKAN SEGALANYA PADA YANG KUASA, dan LEBIH SUKA BERPIKIR ANAKKU BAIK-BAIK SAJA, TAPI SELALU BERIKAN DIA YANG TERBAIK, KARENA AKU TAKUT PADA APA YANG MUNGKIN KUTEMUKAN DARI DIRINYA, DAN MUNGKIN SESUATU YANG TIDAK SANGGUP KUPAHAMI, SEMENTARA KAMI HANYA BERTIGA DI RUMAH INI, SEMENTARA AKU BODOH DAN SUKA MENGANGGAP DIRIKU TIDAK PERNAH MENARUH PANTATKU DIATAS KURSI SEKOLAH.


Akhirnya BAPAK beranjak.


Saat itu aku senang. Kartun MARUKO CHAN masih playback. Setidaknya setengah jam lebih tidak ada BAPAK di rumah. AURA kami tidak cocok, karena sama-sama PANAS, tidak tahan berada bersama di satu atap. Kalau aku selalu terpikir untuk melakukan BUNUH DIRI, entah dengan BAPAK.

Sekitar jam 8 kurang, BAPAK kembali dari berbelanja. Entah bagaimana rasanya menjadi dirinya. BEKERJA dengan KERAS, tidak begitu cerdas, MONYET, IGNORAN, cenderung IDOT dan BERMENTAL TERBELAKANG, seperti orang berbadan besar dan berbulu dan lahir di bulan OKTOBER. Seperti sebagian besar dari diriku sendiri.


Setalah menurunkan muatan, masih ada muatan lain yang lebih familiar, untuk diturunkan. BAPAK berjalan cepat, membuat suara dengan celananya yang saling menyapu, ke dalam rumah, "Klenting... Klenting..." dia buka celana buru-buru, berbelok ke kamar mandi. LALU DIA BERAK LAGI.

"BROTTT!!!!" ""TUUUUUUUTTTT!!!!" Wah, nyaring SEKALI!


Terbayang TAIKnya BAPAK kuning, kecokelatan, mungkin lebih cokelat lagi karena dia suka minum kopi. Aku, di kamar, mendengar aktivitasnya, MENARI-NARI dan BERPUTAR-PUTAR! Wajahku memerah, membayangkan bunga-bunga dan TAIK BAPAK melayang-layang di sekitarku. BAHAGIA SEKALI!

Setalah dirasa cukup, BAPAK selesai BERAK. Aku masih bisa membayangkan TAIK BAPAK tersembul dan meloncat seperti peluru dari MULUTKU. AROMAnya PASTI HANGAT dan KHAS.


"Klenting... Klenting..." BAPAK PAKAI CELANA.


Kadang-kadang, kalau belum jam delapan, BAPAK nonton TV lagi sebentar. LALU setelah DIINGATKAN LAGI OLEH MAMAK, BAPAK BERANJAK KE KANTOR. Dia seorang Teknisi, tapi sejak naik jabatan, dia akhirnya punya meja sendiri di kantor. Entah apa judul jabatannya, aku lupa pula.

PULANG BEKERJA KERAS MENCARI UANG UNTUKKU DAN MAMAK, BAPAK sudah PASTI kembali ke kamar mandi untuk BERAK.


Malam hari adalah giliran BAPAK menjaga kios. Dulu aku masih sering, tapi setelah lulus SMA, tidak lagi. Alasannya karena setelah percobaan bunuh diri yang memulangkanku dari Jogja pada tahun 2007, harga-harga sudah banyak berubah, dan aku mulai tidak bisa lagi mengingat banyak hal.

BAPAK menutup kios sekitar tengah malam. Mungkin karena udara dingin, BAPAK BERAK LAGI. “BROTTT!!!” “PRRUUUTTT!!!!” “PLUP!”


Dan yang menarik lagi, BAPAK CEBOK, bunyinya, “CHAP! CHAP! CHAP! CHAP!” Terbayang air dengan sia-sia menyapu kulit pantatnya yang tebal dan berbulu, dan lobang pantatnya yang kotor. Sulit sekali untuk tidak membayangkannya, bahkan saat aku sedang makan di kamar.

Bunyi itu hampir mirip dengan bunyi saat dia makan, “CHAP, CHAP, CHAP, CHOP, CHOP, CHOP...” karena mengunyah dengan mulut terbuka, dan jus sayuran yang dikunyahnya memenuhi mulutnya bercampur minyak dan bumbu-bumbu. Mungkin juga ada yang menyangkut di kumisnya, dan tidak ada yang merupakan masalah besar selain pasir dan kerikil yang sering kali mengganggunya saat makan. Saat ditegur apakah sudah membaca Basmalah, BAPAK tidak menjawab. Sama seperti BAPAK sudah lama tidak mengucapkan SALAM saat masuk ke rumah.


Setelah makan, tentu saja perut terasa kenyang, lalu, “Krrieeett...” engsel pintu kamar mandi berbunyi, tak lama, “BRUTT, BRUTTT, BRRRRRRTTTTT....!!!”


Hhhh... [tersipu bahagia]


Aku hanya...


Aku hanya bertanya-tanya... Berapa banyak TAIK dalam PERUT BAPAK setiap hari?

O iya... BAPAK SELALU MEMBIARKAN PINTU KAMAR MANDI TERBUKA DAN LAMPU PADAM SAAT DIA BERAK SETIAP HARI. Karena menurutnya supaya dia tidak mencium baunya terlalu banyak. Bagiku, mungkin supaya aromanya mengendap di bawang, lubang-lubang kecil botol merica, dan wajan yang lengket oleh minyak sisa memasak setiap hari.


Hhh... [bahagia, menatap angkasa] Manis sekali, bukan?


AKU RASA...

SAAT AKU MATI,

TAIK BAPAK

ADA DI DALAM

MULUTKU.


Nama BAPAK Misran, lahir di Kisaran, Asahan, Sumatera Utara, 31 Oktober 1956.