Saturday, February 21, 2009

Lukisan Kertas Koran






Baru liat tayangan di tv tentang box cantik dari kardus dan kertas koran. Akhirnya tak ayal lagi, diri ini terinspirasi (like a fool) untuk membuat sesuatu. Dalam usaha yang singkat, ditemukanlah selembar kardus dan satu eksemplar koran. Usaha yang intuitive untuk menemukan perlatan melukisku yang dulu digunakan untuk kuliah; beberapa botol cat poster dan sekotak cat air serta beberapa batang kuas yang hanya satu saja yang masih bisa digunakan.

Aku ambil lem kanji dalam botol anak bertopi dari kios, kemudian mulai bekerja.

Pertama-tama, selembar kertas koran diremas-remas kemudian dilemkan pada lembar kardus. Well, ini tidak akan berbentuk box. Sengaja.

Menggunakan kertas koran pula untuk membentuk pola timbul yang dilem. Sisanya spontanitas dan apa yang menurutmu harus dilakukan.

Maka jadilah.

Kata Mamak

"ini cobaan kita...."
tau kenapa dia berpikir gitu?
karena dia baru tau aku gini! 20 tahun!
selama 20 tahun, kurasa dia anggap aku kayak card-reader rusak yang aku punya di kamarku; ada, tapi bukan apa-apa. or they're just got very clumsy. like, really wanted a baby, and just when they got one, then...? naturally, their age, they're already tired of long time passed. They get tired because they're stupid on living wisely. so, i live with ignorants, as it is.

Saturday, February 14, 2009

A Pal

Dia mungkin bukan pribadi yang paling bijaksana, tetapi dia sahabat yang baik, bukan bagi siapapun yang terlihat dekat dengannya, tetapi dia adalah sahabat bagi siapapun yang mengenalnya. Aku menemukan diriku, justru sebaliknya. Dan menemukan dia sahabat yang baik bagiku. Dia sangat responsiv dalam memberiku pilihan-pilihan baik yang aku miliki. Entah bagaimana dia bisa melihat itu, mungkin dengan cara melihat kebalikan dari yang selama ini aku marah kepada pilihan-pilihan itu. Pada dasarnya kepribadiannya sebagai seorang sahabat, hanya menawarkan pilihan-pilihan baik yang bisa dipilih siapapun yang dia anggap teman.

Kejadian nyata: saat aku mengantarkan berkas lamaran ke sebuah bridal studio, aku menceritakan kejadian konyol yang aku alami hari itu padanya. Responnya mengejutkanku. Dia ketawa dalam pesannya, dan mengatakan bahwa walau begitu kan jadi banyak pengalaman... Hatiku agak terseret-seret, karena itu bukan respon yang benar-benar kuharapkan. Setidaknya dia tidak usah membalas saja. Saat itu, aku tidak melihatnya dari sisi yang baik. Dia bangga melihatku berusaha, setelah semua laporan pesimistik yang sering kucurahkan secara spontan padanya. Dia bangga aku walau untuk sesaat itu saja, tidak memikirkan tentang cara lari dari kehidupanku, dan menjalaninya dengan semestinya. Dalam hal itu dia tidak kurang paham. Tetapi yang penting adalah sikap dari kepribadiannya yang nadimis itu.

Kejadian yang lebih baru tetapi tidak lagi begitu menyeret-nyeret hatiku: karena mati listrik di warnet, aku kehilangan file-file penting yang untuk pertama kali setelah dia mengajarkanku untuk mengunduhnya dari Internet. Kemudian aku menceritakan padanya. Malam harinya, dia mengirimiku pesan bahwa dia sudah mengunduhnya, dan menawariku untuk datang dan mengambilnya. Aku benar-benar bahagia, dia melakukan hal yang super. Mungkin baginya itu bukan hal yang besar. Setidaknya kali ini aku bisa melihat kebijaksanaannya sebagai seorang sahabat lebih jelas. Dia, seolah-olah, tanpa sadar, karena dia juga membutuhkan file-file itu, memberiku penghargaan atas usahaku untuk mempraktekkan apa yang telah diajarkannya. Aku gagal melakukannya, kemudian dia memberiku hadiah dengan menyelesaikannya untukku. Lagipula aku tidak yakin aku akan berhasil mengerjakan langkah-langkahnya meskipun menyelesaikannya waktu itu.

Jadi, aku hanya ingin memberitahu bahwa, aku mengenal seorang sahabat.

Thursday, February 12, 2009

Pepatah Orisinalitas GOBLOK!!!

Aku bukan lahir dari dalam lumpur. Aku lahir dari dalam topan.

Orang-orang yang lahir dari dalam lumpur: the hardcore is not where they come from, but the journey to the land of fresh air and water.

Orang-orang yang lahir dari dalam topan: the hardcore is just too close to themselves; fresh air, water, even mud, stick together in a very fast rotation, so it's about how they live together in harmony with the typhoon; they can't even to pretend to live with struggle like orang-orang yang lahir dari dalam lumpur. Mereka berjuang untuk berdamai dengan kehidupan yang sulit mereka terima.

Orang-orang yang lahir dari dalam air: mereka sangat ingin tahu; biasanya rupawan, tapi cenderung bersedih dan kesusahan; masalah hidup mereka adalah mereka harus bisa melihat bahwa perjuangannya ada pada sisi yang justru mereka berjalan kearahnya tanpa sadar, jika tidak segera menyimak, akan tertabrak dan gagal; karena itu mereka (yang berhasil) bersifat pejuang. Biasanya mereka memiliki kehidupan yang layak, atau merasa cukup dan berfokus pada peran sebagai pelindung keluarga atau bersemangat (seolah telah disumpah) untuk membahagiakan mereka. Ada yang mengalami perceraian orangtua dalam keluarganya, baik yang kemudian menikah lagi atau tidak.

Look @ My New Scars

Wednesday, February 11, 2009

Teori Akting Muhammad Ilham

Akting adalah usaha menirukan dengan sebaik mungkin suatu karakter/peran dengan segala atribut yang telah ditentukan. Akting tidak melibatkan perasaan pribadi sang aktor/aktris, melainkan melakukan ekspresi-ekspresi yang membangkitkan atau mewakili emosi-emosi tertentu. Dengan demikian, semesta responsiv dalam akting akan berjalan sesuai naskah.

Kualitas akting dapat ditentukan dengan mengamati jurang antara jiwa sang aktor/aktris dengan peran yang dimainkannya. Semakin terpisah, semakin bagus. Tentu saja ini akan semakin terlihat dengan semakin banyaknya peran yang berbeda yang dimainkan aktor/aktris tersebut.

Menurutku bukanlah hal bagus memerankan karakter yang mirip atau sama sekali serupa dengan kepribadian sang aktor/aktris. Pertama, karena itu dapat mengurangi greget dan mengurangi kualitas akting. Kedua, dapat membahayakan jiwa sang aktor/aktris sebab aktivitas emosional yang tidak mendukung selama berakting memengaruhi lebih banyak daripada memerankan karakter yang berbeda dengan jiwa sang aktor/aktris.

Untuk berakting, mempelajari secara baik peran yang akan dimainkan adalah penting dan merupakah hal utama. Dalam berakting, aktor/aktris berada/masuk ke dalam proses MENJADI, bukan MENGALAMI. MENGALAMI adalah kejadian setelah MENJADI.

Hal yang mengurangi kualitas akting antara lain: kurang memahami secara mendalam karakter peran yang dimainkan, kurang berhati-hati saat menyimpan perasaan pribadi saat memerankan karakter peran, emosi pribadi yang sedang kurang stabil, kesehatan tubuh yang sedang kurang fit sehingga sulit berkonsentrasi.

Improvisasi dapat terjadi saat berakting. Dan itu tidak apa-apa selama tidak mengganggu karakter peran dan jalan cerita.

Ada beragam efek yang ditimbulkan setelah berakting, seperti merasa sulit untuk kembali menjadi pribadi yang sebenarnya, atau stres karena terpengaruh oleh apa yang dialami peran yang dimainkan. Untuk itu, teknik-teknik meditasi dan pernafasan biasanya dapat membantu aktor/aktris menenangkan pikiran dan dapat kembali menjadi dirinya yang sebenarnya.

Berkonsultasi dan memohon bimbingan dari aktor/aktris senior/ahli tentu saja bisa membantu, itu bergantung pada aspek sosial pribadi masing-masing aktor/aktris, dan kemauan belajar, kecuali memiliki tips lain yang telah direncanakan sendiri, seperti mengikuti kelas akting atau bergabung dalam kelompok teater.

Tidak semua aktor/aktris cocok memerankan tokoh-tokoh tertentu, dan seorang aktor/aktris juga tidak selalu cocok memerankan segala macam peran. Itu bergantung pada pengamatan dan biasanya merupakan tugas pengkasting dalam suatu produksi sandiwara. Bisa juga ditemukan oleh sang aktor/aktris sendiri dengan mencoba berbagai macam peran sebagai latihan. Tidak jarang sebuah peran diberikan karena karakter pribadi sang aktor/aktris sendiri yang dirasa cocok dengan salah satu atau keseluruhan atribut karakter sang peran. Lain, bisa juga sebuah peran sampai pada sang aktor/aktris dengan pasal ciri-ciri fisik yang menyerupai tokoh yang dimaksud.

Namun, apapun peran yang diberikan pada aktor/aktris, sebaikanya dimainkan secara baik, seperti yang telah diurai diatas.

Dalam menilai sebuah peran, biasanya aktor/aktris membayangkan memainkan sebuah adegan sang tokoh dalam pikirannya, apabila terlalu jauh dari batas kemampuan dan Koleksi Karakter, atau merasa kurang cocok dan just tidak tertarik, aktor/aktris dapat menolak untuk memainkannya. Namun tentu saja, dengan semakin banyaknya peran yang dimainkan seorang aktor/aktris, akan menambah pengalaman sekaligus ilmu yang lebih tinggi dalam berakting. Tinggal bagaimana aktor/aktris mampu menjalani pekerjaannya dengan bijak.